PR Newswire: news distribution, targeting and monitoring

Berbagai Merek Global Semakin Gencar Menyasar Pengguna Media Digital Tiongkok, dan Data Terbaru Ungkap Fakta bahwa Tiongkok Jadi Tempat Kejahatan Siber Terbesar di Asia Pasifik

2017-05-12 11:47
Share with Twitter

Jumlah Serangan dari tindak kejahatan siber (cybercrime) global naik 35 persen pada triwulan terakhir, dan para penjahat siber menyasar aspek lintasnegara yang kompleks di Tiongkok

SAN JOSE, Calif., 12 Mei 2017 /PRNewswire/ -- Data terbaru dari ThreatMetrix®, The Digital Identity Company®, mengungkapkan tingkat serangan siber yang semakin tinggi di Tiongkok selama triwulan terakhir. Transaksi daring (online) asal Tiongkok paling banyak mengalami penolakan di Asia Pasifik, dan kerap digolongkan sebagai tindak penipuan (fraudulent). Tren ini terjadi seiring langkah berbagai perusahaan global yang kian gencar menyasar pasar dalam negeri Tiongkok – meski aturan segmen daring (online) berjalan ketat.

"Berbagai merek global menghadapi banyak tantangan dalam praktik pencegahan aksi penipuan di Tiongkok. Berbagai konsumen yang legal menunjukkan perilaku yang biasanya dihubungkan dengan aksi penipuan, seperti memakai peranti elektronik yang tergolong jailbroken dan memakai proxies, demi menghindari pembatasan akses internet," kata Pascal Podvin, SVP, Operations, ThreatMetrix. "Banyak perusahaan mempertimbangkan sejumlah aspek tersebut ketika menerima transaksi lintasnegara asal Tiongkok, tanpa meningkatkan kerentanan terhadap kejahatan siber yang meningkat."

Di wilayah Asia secara keseluruhan, tingkat kejahatan siber melonjak akibat data identitas yang dicuri dan diretas tersedia luas bagi penjahat siber. Asia juga memiliki kasus penipuan identitas (identity spoofing) yang paling tinggi di dunia. Banyak serangan siber berkutat pada akses terhadap akun (account logins), sebab gerombolan penjahat siber berupaya mengeruk keuntungan (monetize) dari data identitas curian ini.

Berbagai teknik kejahatan siber terbaru meningkatkan banyaknya serangan siber

Publikasi Q1 2017 Cybercrime Report menemukan fakta bahwa berbagai sumber dan pola serangan siber tengah berkembang dan menjadi sangat merugikan:

  • Seringnya Remote Access Trojans (RATs) digunakan dalam industri layanan keuangan.
  • Sektor Fintech mengalami kasus penipuan identitas (identity spoofing) yang menyasar bidang peer-to-peer loans serta sarana lain yang tengah berkembang.
  • Transaksi digital wallet meningkat sebesar 80 persen secara tahunan dan serangan bot yang terkait dengan bidang itu juga meningkat 180 persen
  • Sekitar 45 persen dari total transaksi kini dilakukan pada peranti seluler (mobile)
  • Industri layanan keuangan paling banyak menggunakan perangkat seluler dan memiliki jumlah pengguna yang semakin besar dari kalangan pengguna perangkat seluler, kebanyakan dari mereka mengakses akun (login) tiga kali lebih sering. 

"Kompleksitas dan kecepatan pola serangan siber terus mengagetkan kita," ujar Vanita Pandey, VP, Product Marketing, ThreatMetrix. "Kalangan usaha harus bisa menjadi singa yang luar biasa dalam menghadapi kalangan pelaku penipuan yang lincah seperti rusa. Perusahaan harus lebih pintar lagi, menggunakan data intelijen yang dinamis guna memahami berbagai identitas digital konsumen yang istimewa."

Q1 2017 Cybercrime Report -- unduh sekarang juga

Publikasi ThreatMetrix Q1 Cybercrime Report berdasarkan pada kasus-kasus serangan siber yang sebenarnya terjadi, dalam periode Januari-Maret 2017 yang terdeteksi oleh ThreatMetrix® Digital Identity Network®.

ThreatMetrix merupakan solusi otentifikasi jati diri digital serta transaksi daring yang berbasis teknologi cloud dan menjadi produk terdepan di pasaran www.threatmetrix.com.

KONTAK: 
Ken Lam
ThreatMetrix
klam@threatmetrix.com
+852-61800905

Berita Video Terpilih

Pencarian
  1. Produk & Layanan
  2. Cari Rilis Berita
  3. Pusat Informasi
  4. bagi Jurnalis & Media
  5. Hubungi Kami